Washington — Trump dan Zelensky Bersitegang, Serangan Rusia Tewaskan 21

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky saling melontarkan kritik tajam pada Sabtu (waktu setempat), beberapa jam set

Washington — Trump dan Zelensky Bersitegang, Serangan Rusia Tewaskan 21

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky saling melontarkan kritik tajam pada Sabtu (waktu setempat), beberapa jam setelah Washington mengambil langkah kontroversial untuk melonggarkan sanksi terhadap ekspor diesel Rusia. Gesekan diplomatik itu terjadi di tengah gelombang serangan Moskow yang kembali menghantam sejumlah kota di Ukraina dan menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk empat anak-anak.

Perkembangan ini menandai titik terendah baru dalam hubungan kedua pemimpin yang sebelumnya sempat menunjukkan keakraban di berbagai forum internasional. Kebijakan pelonggaran sanksi energi dianggap Kyiv sebagai pukulan langsung terhadap posisi Ukraina di meja perundingan maupun di medan perang.

“Kami tidak akan pernah menerima kesepakatan yang dibuat di belakang punggung rakyat Ukraina. Setiap dolar yang mengalir ke kas Rusia hari ini akan kembali dalam bentuk rudal yang menghantam kota-kota kami esok hari,” tegas Zelensky dalam pernyataan yang dirilis kantor kepresidenannya.

Dari sisi Washington, Trump membalas dengan nada sama kerasnya. Ia menegaskan bahwa pelonggaran sanksi merupakan bagian dari strategi ekonomi untuk menekan harga energi global dan memaksa Moskow masuk ke jalur negosiasi.

“Saya tidak mengirim tentara Amerika ke perang orang lain. Saya mengirim pesan: duduk, bicara, dan akhiri ini. Kalau Zelensky tidak mau berkompromi, itu pilihan dia,” kata Trump kepada awak media.

Longgarkan Sanksi Diesel, Washington Dituding Beri Angin ke Moskow

Langkah pelonggaran sanksi diesel Rusia dinilai analis sebagai manuver berisiko tinggi. Di satu sisi, kebijakan itu berpotensi menstabilkan pasokan energi dan menekan inflasi di pasar global. Di sisi lain, kebijakan tersebut secara efektif mencabut salah satu instrumen tekanan paling efektif yang dimiliki Barat terhadap mesin perang Rusia.

Sejumlah negara Eropa dilaporkan menyampaikan keberatan tertulis kepada Washington, menilai keputusan itu dilakukan tanpa konsultasi memadai dengan sekutu-sekutu utama NATO. Kekhawatiran utama: celah regulasi pada produk olahan minyak dapat menjadi pintu masuk bagi pendapatan ekspor Rusia yang selama ini menjadi penopang anggaran pertahanannya.

Korban Bertambah, Empat Anak Tewas

Otoritas lokal melaporkan bahwa serangan terbaru menyasar kawasan permukiman dan infrastruktur sipil. Tim penyelamat masih melakukan pencarian di reruntuhan bangunan hingga Minggu dini hari. Empat anak-anak dilaporkan termasuk di antara korban tewas, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Rumah sakit di wilayah terdampak menyatakan kesulitan menghadapi lonjakan pasien, terutama karena pasokan listrik yang terganggu pasca-serangan. Lembaga-lembaga kemanusiaan kembali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil sesuai hukum humaniter internasional.

Diplomasi yang Rapuh, Gencatan Senjata Masih Jauh

Kombinasi antara pelonggaran sanksi dan eskalasi militer menciptakan paradox yang makin sulit dibaca: upaya mendorong perdamaian justru diwarnai langkah yang memperkuat posisi salah satu pihak. Para pengamat menilai tidak ada dasar realistis untuk gencatan senjata dalam waktu dekat selama insentif ekonomi dan militer masih saling bertabrakan.

  • 21 orang tewas dalam serangan terbaru Rusia, empat di antaranya anak-anak.
  • Washington melonggarkan sanksi diesel Rusia, memicu kemarahan Kyiv dan keberatan sekutu Eropa.
  • Trump dan Zelensky saling menyerang secara terbuka melalui pernyataan resmi dan media.
  • NATO menghadapi ujian solidaritas karena kebijakan energi AS diambil tanpa konsultasi penuh.
  • Prospek gencatan senjata dinilai tetap jauh selama insentif perang belum berubah.

Pertanyaan terbesar yang kini menggantung adalah seberapa jauh Washington bersedia menekan Moskow, dan seberapa jauh Kyiv bersedia menahan diri. Dalam situasi di mana setiap keputusan energi berdampak langsung pada jumlah korban jiwa, garis pemisah antara diplomasi dan pengkhianatan menjadi semakin kabur.