Prancis Hentikan Gas Kejut di Demo Pelajar
PARIS, Lurusin International — Pemerintah Prancis menghentikan sementara penggunaan granat kejut oleh polisi saat aksi unjuk rasa yang dipimpin pelajar. Me
PARIS, Lurusin International — Pemerintah Prancis menghentikan sementara penggunaan granat kejut oleh polisi saat aksi unjuk rasa yang dipimpin pelajar. Menteri Dalam Negeri mengumumkan kebijakan itu pada Rabu (28/1), di tengah meningkatnya tudingan kekerasan aparat setelah berhari-hari demonstrasi berlangsung kadang memanas di berbagai penjuru negeri.
Pengumuman itu muncul tak lama setelah insiden yang menggemparkan publik: seorang pelajar dilaporkan kehilangan tangan akibat ledakan alat pengendali massa. Kasus tersebut memicu gelombang kritik terhadap taktik polisi dan menempatkan pemerintah Presiden Emmanuel Macron di bawah tekanan politik yang kian berat.
Tuntutan Buruh yang Melebar ke Jalanan
Aksi massa terbaru berlangsung pada Selasa (27/1), ketika puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan di berbagai kota Prancis. Mereka menuntut perbaikan kondisi di sekolah menengah atas, termasuk kepadatan kelas, kurangnya tenaga pengajar, serta fasilitas yang terbengkalai.
Namun unjuk rasa yang bermula dari persoalan pendidikan itu perlahan melebar. Dalam beberapa hari terakhir, isu kekerasan polisi menjadi bahan bakar baru yang menyulut amarah warga. Tudingan bahwa aparat menggunakan berlebihan terhadap warga, termasuk pelajar, mengemuka berulang kali di media sosial maupun dalam konferensi pers serikat buruh dan kelompok advokasi HAM.
"Polisi ditugaskan menjaga ketertiban, bukan melukai warganya sendiri. Setiap luka yang dialami warga di jalanan wajib diperiksa secara independen," ujar seorang pengamat keamanan Prancis.
Seriometer Politik yang Memanas
Keputusan menangguhkan penggunaan granat kejut bisa dibaca sebagai langkah defensif pemerintah. Sejumlah analis menilai Menteri Dalam Negeri berusaha meredakan eskalasi sebelum gelombang protes berikutnya terjadi. Sebagian pengamat menekankan bahwa kekerasan di jalanan bukanlah persoalan baru di Prancis, melainkan pola berulang yang kembali muncul setiap kali ketidakpuasan publik menumpuk.
Meski demikian, kritik terhadap aparat masih berlanjut. Aktivis menuntut transparansi penuh dalam penyelidikan insiden yang mengakibatkan pelajar kehilangan tangan. Mereka juga meminta publikasi rekaman kamera tubuh dan data identitas petugas yang terlibat dalam penembakan granat kejut.
- Pemicu utama: tuntutan perbaikan kondisi sekolah menengah atas.
- Kasus pemicu: pelajar kehilangan tangan diduga akibat granat kejut polisi.
- Langkah pemerintah: penangguhan sementara penggunaan alat pengendali massa di demo pelajar.
- Tuntutan lanjutan: penyelidikan independen dan akuntabilitas petugas.
Situasi masih terpantau. Koalisi mahasiswa dan serikat buruh mengisyaratkan aksi lanjutan bila tuntutan transparansi tidak dipenuhi, sementara polisi berada di bawah sorotan publik yang kian tajam. Prancis kembali menghadapi ujian besar dalam menyeimbangkan keamanan publik dan hak sipil warganya.
Comments (0)