Paus Leo XIV Serukan Persatuan Eropa dari Kota Perbatasan Prancis
METZ, PRANCIS — Setelah tiga hari kunjungan yang diwarnai luapan sukacita umat di Paris dan Lourdes, Paus Leo XIV menutup rangkaian lawatan apostoliknya ke
METZ, PRANCIS — Setelah tiga hari kunjungan yang diwarnai luapan sukacita umat di Paris dan Lourdes, Paus Leo XIV menutup rangkaian lawatan apostoliknya ke Prancis dengan pesan politik yang sarat makna. Pada hari keempat sekaligus terakhir, Senin (waktu setempat), Bapa Suci bertolak ke kota Metz di timur laut Prancis—sebuah pilihan lokasi yang oleh para pengamat Vatikan dinilai bukan kebetulan belaka.
Metz, kota berusia lebih dari dua milenium yang berdiri hanya beberapa kilometer dari perbatasan Jerman dan Luksemburg, menjadi panggung bagi pidato Paus tentang masa depan Eropa dan integrasi benua tersebut. Kota ini secara historis telah berganti kewarganegaraan antara Prancis dan Jerman berkali-kali—sebuah simbol hidup dari pergulatan identitas Eropa yang berdarah-darah sebelum akhirnya bersatu dalam proyek Uni Eropa.
“Eropa tidak dibangun di atas ketakutan terhadap yang berbeda, melainkan di atas keberanian untuk merangkul yang asing sebagai saudara,” tegas Paus Leo XIV di hadapan ribuan umat yang memadati alun-alun kota, dikutip dari Vatikan News.
Pemilihan Metz sebagai lokasi pidato terakhir dinilai strategis. Kota ini merupakan salah satu pusat industri baja dan tambang yang menjadi tulang punggung rekonsiliasi Franco-Jerman pasca-Perang Dunia II—fondasi dari apa yang kelak berkembang menjadi Uni Eropa. Dengan berbicara di sana, Paus secara simbolis menyentuh akar terdalam proyek perdamaian Eropa.
Kritik Halus terhadap Gelombang Populisme
Dalam pidatonya, Paus Leo XIV tidak menyebut nama negara atau partai tertentu. Namun pesannya dinilai jelas mengarah pada menguatnya sentimen nasionalis dan populisme sayap kanan di sejumlah negara anggota Uni Eropa yang kerap mempertanyakan nilai integrasi dan solidaritas lintas batas.
Beberapa poin kunci yang disampaikan Bapa Suci dalam pidatonya antara lain:
- Perdamaian bukan warisan otomatis — Paus menekankan bahwa perdamaian Eropa harus terus diperjuangkan setiap generasi, bukan dianggap sebagai pencapaian permanen.
- Solidaritas lintas negara — Menyerukan agar negara-negara Eropa tidak menutup diri terhadap migran dan pengungsi yang membutuhkan perlindungan.
- Dimensi spiritual integrasi — Mengingatkan bahwa proyek Eropa bersumber dari nilai-nilai kemanusiaan dan rekonsiliasi, bukan sekadar kepentingan ekonomi.
- Dialog antargenerasi — Mengajak kaum muda Eropa untuk menjadi agen perdamaian dan penjaga nilai-nilai demokrasi.
Sepanjang kunjungannya di Prancis, Paus Leo XIV memang memadukan pesan spiritual dan politik dengan porsi yang seimbang. Di Paris, ia menyapa kaum muda dan memperingatkan bahaya ketidakpedulian sosial. Di Lourdes, pusat ziarah marian terbesar di Eropa, ia fokus pada pesan harapan dan penyembuhan. Sementara di Metz, ia menutup kunjungan dengan visi kenabian tentang masa depan benua tua itu.
Para analis Vatikan menilai pemilihan Metz mengirim sinyal bahwa Takhta Suci ingin tetap relevan dalam percaturan geopolitik Eropa—bukan sebagai aktor kekuasaan, melainkan sebagai suara moral yang mengingatkan akan akar perdamaian yang rapuh. Sejumlah uskup dari Jerman dan Luksemburg dilaporkan turut hadir, menegaskan dimensi lintas batas dari peristiwa ini.
“Jika Eropa lupa bagaimana bermimpi, ia akan kehilangan masa depannya. Namun jika Eropa ingat bahwa ia dibangun dari reruntuhan perang, ia akan menemukan kembali jiwanya,” lanjut Paus dalam homilinya.
Lawatan empat hari ini menjadi salah satu kunjungan kepausan terbesar ke Prancis dalam beberapa dekade terakhir, dengan total ratusan ribu umat yang hadir di berbagai agenda. Paus Leo XIV dijadwalkan kembali ke Roma pada Selasa pagi, membawa pesan yang akan terus bergema jauh setelah ia meninggalkan tanah Prancis.
Comments (0)