LONDON — Keranjang belanja warga Inggris tengah mengalami pergeseran besar yang tak banyak disadari. Kacang-kacangan, lentil, tahu, dan tempeh kini makin sering muncul di meja makan, sementara daging asli maupun daging nabati olahan justru mulai ditinggalkan. Pergeseran ini bukan sekadar tren gaya hidup sesaat, melainkan buah dari tekanan biaya hidup yang berkepanjangan dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat.
Berdasarkan analisis yang dirilis pada akhir Agustus 2026, penjualan kacang-kacangan, polong-polongan, dan turunan kedelai di Inggris meningkat 7,3 persen pada paruh pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh melonjaknya permintaan lentil kering murah, bahan pangan sederhana yang kaya protein dan serat namun selama ini kerap diabaikan konsumen perkotaan.
Angka di Balik Lonjakan Penjualan Kacang-kacangan
Kenaikan penjualan sebesar 7,3 persen itu menjadi sinyal kuat bahwa kebiasaan makan warga Inggris sedang berubah. Yang paling menonjol adalah pertumbuhan kategori lentil kering yang menjadi pendorong utama lonjakan tersebut. Sebaliknya, produk daging asli dan daging nabati olahan justru mencatat penurunan pada periode yang sama, sebuah pola yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
| Kategori Produk | Tren Paruh Pertama 2026 |
|---|---|
| Kacang-kacangan, polong-polongan, turunan kedelai | Naik 7,3% |
| Lentil kering | Pendorong utama pertumbuhan |
| Daging asli | Cenderung menurun |
| Daging nabati olahan | Ikut menurun |
Pola ini menunjukkan konsumen tidak sekadar memindahkan pilihan dari satu jenis protein ke jenis lainnya, tetapi mengubah cara mereka memandang isi piring. Bahan pangan mentah yang murah, tahan lama, dan mudah diolah di rumah kini dianggap lebih bernilai dibandingkan produk olahan yang harganya kerap melonjak mengikuti inflasi.
Daging Asli dan Daging Nabati Sama-sama Tertekan
Hal yang menarik dari temuan ini adalah nasib daging nabati olahan. Produk seperti burger nabati, sosis vegan, dan nugget berbasis protein kedelai yang sempat populer beberapa tahun lalu kini ikut mengalami penurunan penjualan. Konsumen yang sadar harga menilai produk-produk itu harganya tidak jauh berbeda dari daging asli, sehingga mereka memilih meninggalkan keduanya demi alternatif yang jauh lebih murah.
“Ini menunjukkan bahwa keputusan belanja konsumen tidak lagi didorong tren, melainkan nilai dan fungsi,” ujar seorang analis ritel yang memantau perkembangan pasar pangan Inggris. Menurutnya, kacang-kacangan unggul karena menawarkan harga yang stabil, masa simpan yang panjang, dan kandungan gizi yang sebanding dengan sumber protein hewani.
Biaya Hidup Menjadi Pemicu Utama
Krisis biaya hidup yang belum sepenuhnya mereda telah memaksa jutaan rumah tangga Inggris menyusun ulang anggaran belanja bulanan. Dalam kondisi seperti ini, kacang-kacangan hadir sebagai solusi paling rasional: satu kilogram lentil kering bisa diolah menjadi beberapa kali lipat porsi makanan dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan daging segar.
Perbandingannya cukup mencolok. Sekaleng kacang merah dapat dibanderol hanya sebagian kecil dari harga sekilo daging sapi, namun menyediakan protein dan serat yang cukup untuk satu keluarga kecil. Tak heran jika supermarket-supermarket besar di Inggris mulai memperluas rak bahan pangan kering dan memberi ruang promosi lebih besar bagi produk kacang-kacangan.
Nutrisi: Mengapa Kacang-kacangan Unggul
Dari sisi gizi, para ahli pangan menilai pergeseran ini membawa dampak positif bagi kesehatan publik. Kacang-kacangan kaya akan protein nabati, serat, zat besi, dan folat serta rendah lemak jenuh, menjadikannya pilihan yang baik untuk menjaga kesehatan jantung dan kadar gula darah.
- Protein nabati yang mendukung pertumbuhan dan perbaikan sel tubuh
- Serat tinggi yang melancarkan pencernaan dan memberi rasa kenyang lebih lama
- Zat besi dan folat yang penting bagi pembentukan sel darah merah
- Kandungan lemak jenuh yang rendah dibandingkan daging olahan
“Masyarakat kini lebih cerdas dalam memilih makanan. Mereka tidak sekadar mencari pengganti daging, melainkan mencari bahan pangan yang benar-benar terjangkau dan bergizi. Lentil, buncis, dan tahu memenuhi kriteria itu dengan sangat baik,” kata seorang ahli gizi yang berbasis di London.
Pelajaran bagi Industri Makanan Olahan
Fenomena ini menjadi pelajaran berharga bagi produsen makanan olahan. Kehadiran produk “mirip daging” ternyata tidak cukup jika harganya tidak kompetitif. Strategi pemasaran yang mengandalkan tren semata terbukti rapuh ketika daya beli masyarakat melemah dan prioritas konsumen bergeser menuju kebutuhan pokok yang murah.
Industri pun dituntut beradaptasi. Beberapa produsen mulai meracik ulang produknya agar lebih terjangkau, misalnya dengan mengombinasikan kacang-kacangan utuh dengan bumbu instan sehingga konsumen tetap bisa menikmati kemudahan tanpa harus membayar mahal.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Para pengamat memperkirakan tren konsumsi kacang-kacangan akan terus berlanjut setidaknya dalam beberapa tahun ke depan. Kombinasi tekanan harga, kampanye pola makan sehat, serta meningkatnya minat pada masakan berbasis tumbuhan dari berbagai budaya membuat kacang-kacangan semakin sulit tergantikan di rak-rak supermarket Inggris.
Namun tantangan tetap ada. Sebagian besar kacang-kacangan yang dikonsumsi warga Inggris masih diimpor, sehingga pemerintah berpeluang mendorong ketahanan pangan domestik melalui perluasan budidaya lokal. Bagi konsumen, pesannya sederhana: makanan yang murah, bergizi, dan ramah lingkungan ternyata bisa hadir dalam satu piring yang sama.
Comments (0)