Jumlah pembuangan limbah mentah ke sungai dan laut oleh perusahaan air di Inggris selama cuaca kering meningkat signifikan dalam lima bulan pertama tahun 2026. Data eksklusif mencatat 7.280 kejadian dugaan pembuangan ilegal terjadi antara Januari hingga Mei 2026 — angka yang memprihatinkan mengingat tahun penuh 2025 mencatat 8.576 kejadian serupa.
Kenaikan drastis ini terjadi meskipun regulator berjanji mengambil tindakan lebih tegas terhadap polusi air. Situasi ini semakin memperjelas krisis lingkungan yang melanda sektor air di Inggris, di mana perusahaan swasta yang mengelola pasokan air justru menjadi sumber utama pencemaran.
Apa Itu Limbah Cuaca Kering dan Mengapa Ilegal?
Limbah cuaca kering atau yang dikenal dengan istilah dry day spill merujuk pada pembuangan limbah mentah melalui saluran limpa air hujan saat cuaca cerah atau minimal turun hujan. Sistem ini seharusnya hanya berfungsi dalam kondisi darurat — ketika volume air hujan berlebih membebani saluran pembuangan limbah.
Namun puluhan tahun kurangnya investasi dalam infrastruktur perusahaan air swasta telah menyebabkan sistem darurat ini digunakan secara rutin. Pembuangan saat cuaca kering meningkatkan toksisitas pencemaran karena sungai memiliki aliran dan volume yang lebih rendah, serta tidak ada air hujan untuk mengencerkan limbah.
Robert Forrester, mantan petugas Badan Lingkungan Hidup Inggris (Environment Agency) selama lebih dari 20 tahun, mengecam keras praktik ini.
"Pembuangan di hari kering hampir selalu bersifat disengaja dan ilegal. Jika tidak, akan ada limbah mentah yang mengalir tanpa henti dari pipa-pipa," kata Forrester dalam wawancaranya.
Forrester, yang sebelumnya mengungkap kegagalan agensi dalam menindak praktik ilegal perusahaan air sebelum meninggalkan jabatannya, menambahkan temuan yang mengkhawatirkan.
"Peningkatan drastis dalam tahun yang jauh lebih kering ini menunjukkan bahwa perusahaan air memiliki kuota limbah untuk dibuang dan akan melakukan apa pun terhadap cuaca, berapa pun risiko terhadap masyarakat dan lingkungan. Menghasilkan uang adalah fokus utama. Regulator bukan lagi efek jera bagi tindakan perusahaan air."
South West Water: Kasus Paling Mencolok
Perusahaan South West Water, yang beroperasi di Devon, Cornwall, serta sebagian Dorset dan Somerset, mencatat angka yang sangat mengkhawatirkan. Dalam lima bulan pertama tahun 2026, perusahaan ini melakukan pembuangan limbah di hari kering sebanyak 1.299 kali — dibandingkan 2.451 kali selama seluruh tahun 2025.
Artinya, dalam waktu kurang dari setengah tahun, South West Water telah mencapai lebih dari separuh total pembuangan tahun sebelumnya. Ed Tyldesley, anggota dewan Liberal Democrat di Devon utara, menyoroti data dari platform pemantauan WaterWatch.
"Mereka menggunakan sistem badai saat tidak ada badai. Ini tidak masuk akal. Hal yang mengkhawatirkan adalah situasi ini sepertinya semakin memburuk," ujar Tyldesley.
Tyldesley mengungkapkan bahwa perusahaan air sendiri mengakui data pemantauan langsung mereka terkadang mengandung pembacaan palsu. "Ada dua kemungkinan: data South West Water benar dan limbah dibuang ke sungai dan laut kami selama 299 jam dalam satu minggu, atau sistem pemantauan wajib mereka begitu tidak reliabel sehingga ratusan pembuangan limbah yang tampak dilaporkan ke publik sebenarnya tidak terjadi."
Respons Pemerintah dan Industri Air
Kementerian Lingkungan Hidup dan Pangan Inggris (Defra) angkat bicara terkait skandal ini.
"Sangat tidak dapat diterima bahwa beberapa perusahaan air gagal memberikan nilai uang yang baik bagi pelanggan dan mencemari sungai, danau, dan laut kami. Setelah bertahun-tahun kegagalan, kami telah mengambil tindakan segera agar perusahaan air lebih bertanggung jawab — dan untuk pertama kalinya, mereka kini diwajibkan melaporkan pembuangan hari kering sebagai insiden polusi," kata juru bicara Defra.
Sementara itu, Water UK — asosiasi industri perusahaan air — memberikan tanggapan yang lebih defensif.
"Angka-angka ini belum diverifikasi dan terlalu cepat untuk menyebutnya sebagai pembuangan hari kering. Meski demikian, tidak ada pembuangan yang pernah bisa diterima. Perusahaan air bekerja untuk menghentikan pembuangan secepat mungkin dengan melipatgandakan investasi. Perusahaan-perusahaan berinvestasi £12 miliar untuk memangkas setengah pembuangan dari sistem limpa badai pada tahun 2030, termasuk pelapisan ulang dan penutupan saluran limbah untuk mencegah infiltrasi air tanah — salah satu penyebab utama pembuangan hari kering."
Dampak dan Tantangan Struktural
Krisis ini mengungkap masalah struktural mendalam dalam sistem pengelolaan air Inggris. Sejak privatasi pada era 1980-an, perusahaan air yang sekarang dimiliki swasta berulang kali mengurangi investasi dalam pemeliharaan infrastruktur. Akibatnya, sistem limpa darurat yang dirancang hanya untuk kondisi cuaca ekstrem kini beroperasi secara rutin.
Beberapa poin penting dari krisis ini meliputi:
- Volume polusi meningkat: 7.280 kejadian dalam lima bulan pertama 2026, dibandingkan 8.576 kejadian sepanjang tahun 2025
- Regulasi belum efektif: Kewajiban melaporkan pembuangan hari kering baru diberlakukan mulai tahun 2025, namun dampaknya belum terasa
- Kerusakan ekosistem: Limbah mentah mengandung bakteri berbahaya, bahan kimia, dan mikroplastik yang mengancam kehidupan air tawar dan pesisir
- Risiko kesehatan masyarakat: Pencemaran air meningkatkan risiko penyakit bagi masyarakat yang menggunakan air sungai untuk rekreasi atau konsumsi
Situasi ini menempatkan Inggris dalam dilema serius: bagaimana mengelola sistem air yang sudah puluhan tahun terbengkalai sementara tuntutan lingkungan dan kesehatan masyarakat semakin mendesak. Tanpa perubahan fundamental dalam pendekatan regulasi dan investasi, skandal limbah ini diperkirakan akan terus berlanjut dan memburuk.
Comments (0)