Film Pembuka Busan 2023 Menuai Kritik: Cantik Tapi Kosong
Sebuah kafe artisan di sudut lingkungan trendy Seoul menjadi latar bagi empat kisah cinta yang dibingkai oleh pergantian musim. Film antologi romansa berju
Sebuah kafe artisan di sudut lingkungan trendy Seoul menjadi latar bagi empat kisah cinta yang dibingkai oleh pergantian musim. Film antologi romansa berjudul "The Table: Day and Night" garapan sutradara Kim Jong-kwan ini menjadi sorotan utama karena terpilih sebagai film pembuka Festival Film Internasional Busan (BIFF) 2023. Namun, di balik kemegahan deretan bintangnya, film ini menuai kritik tajam dari para pengamat sinema.
Dengan durasi yang terbagi dalam empat babak, film ini mencoba merangkai cerita tentang pertemuan, perpisahan, dan kehilangan yang terjadi di atas meja kafe yang sama. Kehadiran aktris papan atas seperti Kim Min-ha (Pachinko), Shim Eun-kyung (Sunny), dan Han Sun-hwa (Marriage, Not Dating) diharapkan mampu mengangkat narasi yang sederhana menjadi sesuatu yang emosional. Sayangnya, ekspektasi tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi.
Keindahan Visual yang Tak Berbekas
Kim Jong-kwan dikenal sebagai sutradara yang gemar mengeksplorasi estetika minimalis dan dialog yang puitis. Dalam "The Table: Day and Night", ia kembali menghadirkan sinematografi yang memanjakan mata. Pencahayaan lembut, komposisi warna pastel, dan framing yang presisi sukses membangun atmosfer kafe yang intim dan melankolis. Namun, keindahan visual tersebut dinilai tidak diimbangi dengan kedalaman cerita yang substansial.
"Film ini seperti secangkir kopi latte dengan latte art yang sempurna—indah saat dipandang, tapi saat diminum, rasanya hambar dan cepat hilang. Tidak ada kick yang tersisa di ingatan penonton."
— Kritikus film Seoul, Park Ji-won
Kritik paling umum yang dilontarkan adalah bahwa film ini terlalu sibuk dengan estetika hingga melupakan fondasi utama sebuah narasi: konflik dan karakter yang berkembang. Keempat cerita yang disajikan terasa seperti vignette yang berdiri sendiri tanpa benang merah yang kuat, kecuali sekadar lokasi kafe yang sama.
Penampilan Bintang yang Tidak Terselamatkan oleh Naskah
Kim Min-ha, yang namanya melambung berkat serial Pachinko, tampil memukau secara visual. Ia mampu menyampaikan emosi melalui tatapan mata dan bahasa tubuh yang halus. Namun, naskah yang ia hadapi minim konflik internal, sehingga bakat aktingnya terasa tidak tergali maksimal. Hal serupa dialami oleh Han Sun-hwa dan Shim Eun-kyung. Ketiganya seperti terjebak dalam mood board yang cantik, tetapi tanpa ruang untuk mengeksplorasi kompleksitas manusiawi karakter mereka.
| Aspek | Penilaian | Skor (1-5) |
|---|---|---|
| Sinematografi | Sangat memukau, estetis, dan konsisten | 5 |
| Naskah & Dialog | Dangkal, repetitif, dan kurang konflik | 2 |
| Akting | Para aktris tampil baik, tapi terbatas oleh materi | 3 |
| Emosi & Pesan | Hambar, mudah dilupakan setelah film usai | 2 |
Antara Ekspektasi Festival dan Realita Kualitas
Pemilihan film ini sebagai pembuka BIFF 2023 memang masuk akal dari sisi komersial. Nama-nama besar seperti Kim Min-ha dan Han Sun-hwa dijamin menarik perhatian media dan publik. Namun, secara artistik, keputusan ini menuai pertanyaan. Festival film sebesar Busan seharusnya menjadi panggung bagi karya yang tidak hanya cantik secara visual, tetapi juga menggugah secara intelektual dan emosional.
"The Table: Day and Night" adalah contoh klasik dari film yang over-produced namun under-written. Ia berhasil menjual vibes—suasana kafe yang tenang, musik yang syahdu, dan wajah-wajah cantik—tetapi gagal menyampaikan cerita yang menggetarkan. Bagi penonton yang mencari tontonan ringan dan estetis, film ini mungkin memuaskan. Namun, bagi mereka yang mengharapkan romansa Korea dengan kedalaman emosi seperti Before Sunrise atau In the Mood for Love, film ini hanya menyajikan buih—cantik, mengambang, dan cepat hilang.
Comments (0)